POLA JABAR - Kisah awal mula sabun, bahan esensial yang kita gunakan setiap hari untuk kebersihan dan kesehatan, berakar jauh ke masa peradaban kuno, jauh sebelum masehi. Bukti tertua mengenai pembuatan zat seperti sabun berasal dari wilayah Babilonia Kuno, sekitar 2800 SM di Mesopotamia.
Para arkeolog menemukan resep tertulis pada tablet tanah liat Babilonia yang secara eksplisit menjelaskan proses pembuatan zat pembersih. Resep ini sangat mendasar, melibatkan pencampuran lemak hewani diduga lemak kambing atau sapi dengan abu kayu (potash) dan air mendidih.
Proses ini dikenal sebagai saponifikasi, yaitu reaksi kimia antara lemak atau minyak dengan basa (alkali) yang menghasilkan sabun. Uniknya, pada awalnya, zat ini tampaknya tidak hanya digunakan untuk kebersihan diri, melainkan lebih banyak diaplikasikan dalam pengobatan, khususnya untuk menyembuhkan penyakit kulit, atau untuk mencuci wol serta kain yang digunakan oleh industri tekstil.
Penemuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pembersih sudah ada sejak lama, meskipun aplikasinya baru bergeser penuh ke kebersihan pribadi pada peradaban selanjutnya.
Meskipun Babilonia dianggap sebagai pelopor, penggunaan zat pembersih kemudian menyebar ke peradaban kuno lainnya, masing-masing dengan variasi bahan dan tujuan. Misalnya, orang Mesir kuno menggunakan campuran minyak hewani atau nabati dengan garam alkali, dan mereka juga menggunakannya sebagai perawatan kulit dan untuk mencuci kain.
Namun, peran terpenting dalam mempopulerkan penggunaan sabun secara intensif dan massal diberikan kepada bangsa Romawi dan Yunani. Meskipun orang Yunani dan Romawi awal terkenal dengan praktik membersihkan diri menggunakan minyak zaitun dan strigil (alat pengikis kotoran), mereka akhirnya mengadopsi dan menyempurnakan proses pembuatan sabun. Galen, seorang dokter Romawi abad ke-2 Masehi, adalah salah satu tokoh yang mendokumentasikan secara rinci penggunaan zat pembersih alkali untuk tujuan higienis dan pengobatan.
Ia mencatat bahwa sabun yang dibuat dari lemak dan abu mampu membersihkan kulit secara efektif, menandai pergeseran bertahap sabun dari alat bantu tekstil menjadi produk kebersihan pribadi yang diakui secara medis.
Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, produksi sabun mengalami penurunan di Eropa, tetapi berkembang pesat di wilayah Timur Tengah, khususnya di bawah Kekhalifahan Islam. Pada Abad Pertengahan, kota-kota seperti Nablus (Palestina), Aleppo (Suriah), dan Savona (Italia) menjadi pusat industri sabun yang maju.
Mereka memperkenalkan perbaikan signifikan pada resep kuno dengan menggunakan minyak nabati, seperti minyak zaitun (khas sabun Aleppo dan Castile), dan mengganti abu kayu dengan abu soda (sodium karbonat) atau kalium karbonat, yang menghasilkan produk yang lebih keras, lebih wangi, dan lebih halus untuk kulit. Inilah yang menjadi cikal bakal sabun batangan yang kita kenal sekarang.