POLA JABAR – Istilah Black Friday memiliki sejarah panjang dengan beberapa versi yang berkembang dari masa ke masa.
Salah satu penjelasan paling populer berasal dari Philadelphia pada pertengahan abad ke-20, ketika kepadatan lalu lintas pasca-Thanksgiving membuat polisi menyebut hari itu sebagai “Black Friday”.
Keramaian besar di pusat perbelanjaan dan jalanan menjadi pemicu munculnya istilah tersebut.
Versi lain muncul dari kebiasaan para pekerja di New York, yang pada hari setelah Thanksgiving sering mengambil izin sakit agar mendapatkan akhir pekan yang lebih panjang.
Momentum ini kemudian bertepatan dengan meningkatnya aktivitas belanja, sehingga memperkuat asosiasi Black Friday dengan hari diskon besar.
Berevolusi dari Belanja Luring ke Era Digital
Dalam perkembangannya, Black Friday tidak hanya identik dengan toko fisik. Memasuki awal tahun 2000-an, penjualan daring mulai mencatat kontribusi yang semakin besar.
E-commerce kemudian menjadikan Black Friday sebagai ajang promo digital besar-besaran, bersaing dengan diskon luring yang lebih dulu populer.
Hingga kini, Black Friday terus berkembang menjadi salah satu momen belanja terbesar setiap tahunnya, dengan promosi yang berlangsung tidak hanya sehari, tetapi sering meluas hingga Cyber Monday dan pekan berikutnya.***