POLA JABAR - Jam tangan saat ini mungkin lebih sering dianggap sebagai pelengkap busana atau simbol status sosial. Namun, jika kita merujuk pada catatan sejarah seperti yang diulas oleh Britannica, jam tangan merupakan salah satu pencapaian teknik paling rumit dalam sejarah peradaban manusia.
Perjalanannya dari sebuah mesin besar di menara kota hingga menjadi perangkat mungil di pergelangan tangan melibatkan inovasi perang, kebutuhan navigasi, dan revolusi desain.
Awal Mula Arloji Portabel
Cikal bakal jam tangan bermula pada abad ke-16 di Eropa, khususnya di Jerman dan Prancis. Sebelum masa itu, alat penunjuk waktu atau jam digerakkan oleh pemberat yang sangat besar, sehingga tidak mungkin dipindahkan. Penemuan pegas utama (mainspring) oleh Peter Henlein sekitar tahun 1500-an menjadi titik balik. Pegas ini memungkinkan pembuatan jam dalam ukuran kecil yang bisa dibawa-bawa, yang kemudian dikenal sebagai "jam jamur" atau arloji saku awal.
Pada masa tersebut, arloji saku bukanlah alat yang akurat. Mereka lebih sering berfungsi sebagai perhiasan mewah bagi kaum bangsawan karena bentuknya yang unik dan hiasan yang rumit. Akurasi jam barulah meningkat secara signifikan setelah penemuan pegas rambut (balance spring) pada abad ke-17, yang memungkinkan jarum menit ditambahkan pada tampilan jam.
Pergeseran dari Saku ke Pergelangan Tangan
Menariknya, hingga akhir abad ke-19, jam tangan (arloji yang dikenakan di tangan) hampir secara eksklusif dianggap sebagai perhiasan bagi wanita. Pria pada masa itu tetap setia pada arloji saku sebagai standar maskulinitas. Namun, kebutuhan praktis di medan perang mengubah segalanya.
Selama Perang Boer dan Perang Dunia I, para tentara menyadari bahwa merogoh saku untuk melihat waktu saat memegang senjata adalah hal yang mustahil. Mereka mulai mengikatkan arloji saku ke pergelangan tangan menggunakan tali kulit agar tetap bisa memantau waktu secara instan untuk koordinasi serangan. Inovasi yang lahir dari keterdesakan perang ini kemudian dibawa pulang oleh para veteran, yang pada akhirnya mengubah persepsi masyarakat luas bahwa jam tangan adalah alat yang praktis bagi pria.
Revolusi Kuarsa dan Era Modern