POLA JABAR – Wewangian bukan sekadar cairan dalam botol mewah; ia adalah cerminan sejarah peradaban, praktik keagamaan, dan penemuan sains yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Kata 'parfum' sendiri berasal dari frasa Latin, per fumum, yang secara harfiah berarti "melalui asap," merujuk pada praktik awal membakar dupa dan getah aromatik untuk berkomunikasi dengan dewa.
Mari kita telusuri perjalanan menakjubkan minyak wangi, dari ritual sakral di Mesir Kuno hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern menurut informasi dari Smithsonian Magazine.
1. Mesir Kuno: Tempat Kelahiran Aroma Sakral
Sejarah parfum dimulai di Mesir Kuno sekitar 4.000 tahun silam. Di sini, parfum memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar mempercantik diri—ia adalah esensi ritual.
Para pendeta Mesir menggunakan aroma yang intens seperti mur, kemenyan (frankincense), dan resin aromatik lainnya untuk upacara keagamaan, pemakaman, dan sebagai persembahan kepada para dewa. Wangi-wangian ini dipercaya sebagai keringat dewa-dewi yang dapat membersihkan jiwa dan memperlancar perjalanan ke alam baka.
Penemuan arkeologi menunjukkan, mereka bahkan menggunakan minyak wangi dalam proses pembalseman. Salah satu contoh ikoniknya adalah Kyphi, parfum kuno yang terbuat dari bahan-bahan kompleks seperti anggur, madu, mur, dan schoenanthus (sejenis serai wangi).
Menariknya, catatan kuno di Mesopotamia menunjuk pada seorang wanita bernama Tapputi sebagai ahli kimia dan pembuat parfum pertama yang tercatat dalam sejarah. Ia menggunakan teknik penyulingan, mencampur bunga, minyak, dan calamus untuk kemudian menyaringnya berulang kali. Ini membuktikan bahwa seni peracikan aroma sudah menjadi praktik yang sangat maju.
2. Jejak Wangi Yunani dan Romawi
Setelah Mesir, budaya wewangian menyebar ke peradaban Yunani dan Romawi. Bangsa Yunani, yang mengembangkan teknik ekstraksi minyak esensial, mulai menggunakan parfum tidak hanya untuk ritual, tetapi juga untuk perawatan tubuh dan kesehatan. Mereka percaya bahwa setiap dewa memiliki aroma khasnya sendiri.