POLA JABAR - Bagi penikmat teh pemula, perbedaan antara teh hijau, oolong, dan teh hitam sering kali dianggap berasal dari tanaman yang berbeda. Namun, faktanya semua jenis teh tersebut berasal dari spesies pohon yang sama, yakni Camellia sinensis. Yang membedakan karakter, warna, hingga profil rasanya adalah sebuah proses kimiawi krusial yang disebut oksidasi.
Oksidasi adalah variabel paling fundamental dalam pengolahan teh. Memahami proses ini bukan sekadar belajar teknik perkebunan, melainkan memahami bagaimana alam dan tangan manusia berkolaborasi menciptakan simfoni rasa dalam setiap seduhan.
Apa Itu Oksidasi Teh?
Seperti dilansir dari teatulita.com secara ilmiah, oksidasi terjadi ketika enzim dalam daun teh berinteraksi dengan oksigen setelah dinding sel daun dipecah (baik melalui penggilingan, penggulungan, atau pemetikan). Proses ini serupa dengan apa yang terjadi pada buah apel yang berubah warna menjadi cokelat setelah dipotong dan dibiarkan di udara terbuka.
Dalam dunia teh, oksidasi mengubah susunan kimiawi polifenol. Katekin yang segar dan pahit diubah menjadi theaflavin dan thearubigins yang memberikan warna gelap serta rasa yang lebih "mantap" atau bold.
Spektrum Oksidasi dan Karakteristiknya
Tingkat oksidasi adalah faktor utama yang mengklasifikasikan teh ke dalam kategori-kategori besar yang kita kenal saat ini:
1. Teh Hijau (Tanpa Oksidasi)
Untuk menjaga warna hijau dan rasa yang segar, daun teh hijau segera dipanaskan (dikukus atau disangrai) sesaat setelah dipetik.