POLA JABAR - Selama satu dekade terakhir, rokok elektrik atau vape sering kali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan melalui platform pracetak ilmiah arXiv membuka tabir yang cukup mengkhawatirkan. Fokus utama para peneliti kini beralih pada apa yang sebenarnya terjadi di tingkat molekuler ketika cairan (liquid) rokok elektrik dipanaskan.

Hasilnya cukup mengejutkan yakni proses pemanasan aerosol pada perangkat ini ternyata memicu pembentukan senyawa karbonil yang bersifat toksik atau beracun.

Inti dari permasalahan ini terletak pada komponen utama cairan rokok elektrik, yaitu propilen glikol (PG) dan gliserol nabati (VG). Dalam keadaan suhu ruang, kedua zat ini relatif stabil. Namun, ketika bersentuhan dengan elemen pemanas atau coil pada perangkat vape, terjadi proses yang disebut degradasi termal.

Pada suhu tinggi, struktur kimia PG dan VG pecah dan menyusun ulang diri mereka menjadi molekul baru. Kelompok senyawa yang paling menonjol dari proses ini adalah senyawa karbonil. Nama-nama seperti formaldehida, asetaldehida, dan akrolein bukanlah istilah asing dalam dunia medis; ketiganya dikenal sebagai zat iritan dan karsinogenik (pemicu kanker) yang kuat.

Mengapa Ini Menjadi Ancaman Serius?

Penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi senyawa karbonil ini tidaklah statis. Ada beberapa faktor yang menentukan seberapa beracun uap yang dihasilkan:

  1. Suhu dan Tegangan Alat: Semakin tinggi daya atau tegangan (wattage) yang digunakan pada perangkat, semakin panas coil yang dihasilkan. Suhu ekstrem ini mempercepat kerusakan molekul cairan, sehingga kadar formaldehida yang dilepaskan pun melonjak drastis.

    Laju Aliran Udara: Sirkulasi udara pada alat juga berpengaruh pada seberapa lama cairan terpapar panas tinggi, yang secara langsung memengaruhi konsentrasi racun dalam setiap isapan.

    Komposisi Cairan: Variasi rasio antara PG dan VG serta penambahan zat perasa tertentu ternyata dapat memperparah pembentukan senyawa karbonil. Beberapa perasa berbasis aldehida justru menambah beban toksisitas saat dipanaskan.