POLA JABAR – Seiring dengan populasi dunia yang diprediksi akan menyentuh angka 10 miliar pada tahun 2050, tantangan penyediaan pangan yang berkelanjutan menjadi isu krusial di panggung global. Dalam laporan terbaru yang dibahas pada pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF), sektor akuakultur atau budidaya perikanan kini ditempatkan sebagai solusi utama untuk mengatasi kesenjangan protein global sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Akuakultur bukan lagi sekadar alternatif penangkapan ikan tradisional, melainkan tulang punggung dari apa yang disebut sebagai "Ekonomi Biru". Berdasarkan data yang dihimpun, sistem pangan air (blue food) memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan produksi daging darat konvensional, menjadikannya pilihan paling rasional dalam menghadapi perubahan iklim.
World Economic Forum menyoroti bahwa sekitar 3,1 miliar orang di seluruh dunia bergantung pada makanan laut sebagai sumber utama protein hewani. Namun, dengan kondisi sepertiga stok ikan liar yang sudah dieksploitasi secara berlebihan (overfishing), ekspansi akuakultur menjadi satu-satunya jalan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Peralihan ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Pertama, efisiensi konversi pakan pada ikan jauh lebih baik dibandingkan ternak sapi atau unggas. Kedua, inovasi teknologi seperti Recirculating Aquaculture Systems (RAS) memungkinkan budidaya dilakukan dengan penggunaan air yang minimal dan kontrol kualitas yang ketat, bahkan di wilayah yang jauh dari garis pantai.
Meskipun memiliki potensi besar, WEF menekankan bahwa masa depan pangan dunia sangat bergantung pada bagaimana praktik akuakultur dijalankan. Fokus utama saat ini adalah transisi dari praktik tradisional menuju metode yang bertanggung jawab secara lingkungan.
Inovasi dalam pakan ikan menjadi salah satu sorotan utama. Penggunaan protein serangga dan alga sebagai pengganti tepung ikan liar mulai diimplementasikan secara luas. Hal ini bertujuan untuk memutus rantai ketergantungan industri budidaya terhadap stok ikan di laut lepas, sehingga ekosistem laut memiliki kesempatan untuk pulih.
Sektor ini tidak hanya menjanjikan ketahanan pangan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi bagi jutaan orang. Small-scale fisheries atau pembudidaya skala kecil menyumbang sekitar 90% dari lapangan kerja di sektor pangan biru ini. Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akuakultur menjadi instrumen penting dalam pengentasan kemiskinan dan pemenuhan nutrisi mikro yang seringkali sulit didapatkan oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
Dengan integrasi kebijakan yang tepat antara pemerintah dan sektor swasta, akuakultur diharapkan mampu menyediakan protein yang terjangkau, bergizi tinggi, dan ramah lingkungan. Langkah ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB dalam menghapus kelaparan dan melindungi kehidupan di bawah air.
Masa depan pangan dunia tidak akan bisa lepas dari peran air. Namun, keberhasilannya menuntut kolaborasi global untuk memastikan bahwa pertumbuhan industri ini tidak mengorbankan kesehatan planet. Melalui teknologi digital, pakan inovatif, dan tata kelola yang transparan, akuakultur siap menjadi penyelamat krisis pangan di masa depan.***