POLA JABAR - Perubahan iklim global telah menjadi ancaman eksistensial bagi populasi penyu laut di seluruh dunia, menyajikan tantangan ganda yang menyerang baik pada fase penetasan maupun habitat hidup dewasa mereka. Salah satu dampak paling unik dan mengkhawatirkan adalah fenomena yang disebut Temperature-Dependent Sex Determination (TSD), di mana suhu pasir sarang berfungsi sebagai penentu jenis kelamin tukik (anak penyu) yang menetas. Berbeda dengan mamalia, penyu tidak memiliki kromosom seks.
Suhu sarang yang lebih tinggi cenderung menghasilkan tukik betina, sementara suhu yang lebih dingin menghasilkan tukik jantan. Pemanasan global yang tak terhindarkan menyebabkan peningkatan suhu pasir di banyak pantai peneluran kritis, yang secara dramatis menggeser rasio jenis kelamin tukik yang dihasilkan.
Dalam beberapa studi di lokasi-lokasi panas, para ilmuwan telah menemukan bahwa sebagian besar, bahkan hampir seratus persen, tukik yang menetas adalah betina, sebuah fenomena yang dijuluki sebagai feminized ocean.
Pergeseran drastis pada rasio jenis kelamin ini menciptakan krisis demografi yang mengancam keberlanjutan jangka panjang spesies penyu. Jika mayoritas populasi adalah betina, akan ada kekurangan penyu jantan yang memadai untuk reproduksi di masa depan, yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan laju perkembangbiakan dan potensi keruntuhan populasi.
Meskipun penyu betina dewasa memiliki kemampuan untuk menyimpan sperma, krisis ini akan mengurangi keragaman genetik dan daya tahan populasi terhadap perubahan lingkungan lainnya.
Selain TSD, peningkatan suhu sarang juga memiliki dampak langsung yang mematikan, yaitu stres panas dan mortalitas embrionik. Suhu yang ekstrem dapat membunuh embrio di dalam telur sebelum menetas atau menghasilkan tukik yang lemah dan kurang sehat, mengurangi jumlah individu yang berhasil mencapai laut.
Ancaman dari perubahan iklim tidak berhenti pada pantai peneluran; habitat fisik penyu dewasa juga terdampak signifikan. Kenaikan permukaan air laut adalah masalah serius yang secara fisik menggenangi dan menghancurkan sarang penyu yang telah diletakkan di zona intertidal atau di tepi pantai.
Karena penyu sering kembali ke pantai yang sama tempat mereka dilahirkan (natal homing) untuk bertelur, hilangnya pantai-pantai ini berarti hilangnya situs reproduksi vital. Lebih lanjut, peningkatan frekuensi dan intensitas badai tropis dan siklon, yang juga dikaitkan dengan perubahan iklim, menyebabkan erosi pantai yang parah dan dapat menggali sarang yang sudah ada, memaparkan atau menghanyutkan telur.
Dampak-dampak serius ini, yang mengancam habitat darat dan kelangsungan reproduksi, telah didokumentasikan dalam penelitian ekstensif, termasuk studi-studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama seperti Nature Climate Change, yang menyerukan perlunya strategi konservasi segera untuk melindungi spesies purba ini.