POLA JABAR – Selama puluhan tahun, susu telah menjadi simbol nutrisi global yang tak tergantikan. Namun, dibalik manfaat kesehatannya yang melimpah, industri susu menyimpan tantangan besar bagi kelestarian planet kita.
Berdasarkan laporan komprehensif dari World Wildlife Fund (WWF), produksi produk susu skala besar memberikan tekanan yang signifikan terhadap sumber daya alam, mulai dari penggunaan air hingga emisi gas rumah kaca.
Produksi susu secara global menyumbang persentase yang cukup besar terhadap emisi metana, salah satu gas rumah kaca yang lebih kuat daripada karbon dioksida dalam memerangkap panas di atmosfer. WWF mencatat bahwa peternakan sapi perah merupakan salah satu kontributor utama emisi pertanian global.
Selain masalah udara, pengelolaan limbah kotoran ternak yang buruk dapat mencemari sumber air lokal. Nutrisi berlebih seperti fosfor dan nitrogen yang masuk ke sungai dapat memicu eutrofikasi, sebuah proses yang menghabiskan oksigen dalam air dan membunuh kehidupan akuatik. Hal ini menjadi peringatan bagi pelaku industri untuk segera membenahi tata kelola limbah mereka.
Ekspansi lahan untuk pakan ternak juga menjadi sorotan tajam. Transformasi hutan dan padang rumput alami menjadi lahan jagung atau kedelai untuk pakan sapi perah menyebabkan hilangnya habitat satwa liar. WWF menekankan bahwa menjaga keseimbangan antara kebutuhan pangan manusia dan perlindungan habitat adalah kunci untuk mencegah kepunahan spesies yang lebih masif.
Kebutuhan air dalam industri ini pun sangat masif. Dibutuhkan volume air yang sangat besar tidak hanya untuk minum ternak, tetapi juga untuk irigasi tanaman pakan. Di daerah yang rawan kekeringan, praktik ini dapat mengancam ketersediaan air bagi masyarakat lokal dan ekosistem sekitarnya.
Meskipun tantangannya berat, harapan tetap ada. WWF aktif bekerja sama dengan para peternak dan perusahaan multinasional untuk menerapkan praktik peternakan berkelanjutan. Beberapa solusi yang didorong antara lain adalah efisiensi pakan untuk mengurangi produksi metana dari pencernaan sapi, serta penggunaan teknologi energi terbarukan di area peternakan.
Inovasi dalam pertanian regeneratif juga mulai dilirik. Dengan memperbaiki kesehatan tanah, lahan peternakan justru dapat berfungsi sebagai penyerap karbon, bukan sekadar sumber emisi. Praktik ini mencakup rotasi penggembalaan yang tepat dan pengurangan penggunaan pupuk kimia sintetis.
Sebagai konsumen, kita memiliki kekuatan untuk mendorong perubahan. Memilih produk susu dari produsen yang memiliki sertifikasi keberlanjutan atau mendukung peternak lokal yang menerapkan praktik ramah lingkungan adalah langkah awal yang nyata. Kesadaran akan asal-usul produk yang kita konsumsi dapat memaksa pasar untuk lebih transparan dan bertanggung jawab.