POLA JABAR - Di tengah tantangan krisis iklim dan meningkatnya populasi manusia, isu ketahanan pangan global menjadi prioritas utama negara-negara di dunia. Berdasarkan laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO), susu bukan sekadar komoditas dagang, melainkan instrumen krusial dalam menyediakan nutrisi bagi miliaran orang sekaligus menopang ekonomi pedesaan.
Susu dikenal sebagai "makanan padat nutrisi" (nutrient-dense food). FAO menekankan bahwa susu menyediakan protein hewani berkualitas tinggi, kalsium, magnesium, selenium, serta vitamin B12 dan riboflavin.
Bagi masyarakat di negara berkembang, konsumsi produk susu dalam jumlah kecil sekalipun dapat memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan anak-anak, terutama dalam mencegah stunting dan malnutrisi kronis.
Susu mengandung asam amino esensial yang sulit ditemukan dalam sumber nabati secara lengkap. Hal ini menjadikan susu sebagai komponen penting dalam program bantuan pangan dunia untuk mengatasi kelaparan di wilayah-wilayah rentan.
Ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan makanan, tetapi juga aksesibilitas ekonomi. Sektor persusuan merupakan sumber pendapatan harian bagi sekitar 150 juta rumah tangga petani di seluruh dunia. Berbeda dengan tanaman pangan musiman, ternak perah memberikan aliran kas (cash flow) yang stabil sepanjang tahun.
Data FAO menunjukkan bahwa sebagian besar produksi susu dunia berasal dari peternak skala kecil. Dengan memberdayakan sektor ini, sebuah negara secara tidak langsung memperkuat jaring pengaman sosial dan ekonomi bagi masyarakat miskin di pedesaan, yang pada akhirnya meningkatkan daya beli pangan mereka.
Meskipun perannya sangat vital, FAO juga menyoroti tantangan lingkungan yang dihadapi sektor ini. Peternakan menyumbang emisi gas rumah kaca, terutama metana. Oleh karena itu, strategi ketahanan pangan global kini bergeser pada konsep "Climate-Smart Dairy Farming".
Upaya yang dilakukan meliputi:
Peningkatan efisiensi pakan untuk mengurangi emisi per liter susu.