POLA JABAR - Kurma, dengan rasa manisnya yang khas, seringkali menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi mereka yang harus mengontrol kadar gula darah, seperti penderita diabetes. Kekhawatiran ini wajar, mengingat kurma mengandung gula alami yang tinggi.
Namun, ilmu pengetahuan modern justru menunjukkan fakta yang mengejutkan. Kurma, bila dikonsumsi dalam batas wajar, memiliki efek yang lebih stabil pada gula darah daripada yang diperkirakan.
National Institutes of Health (NIH) dan basis data ilmiahnya telah mempublikasikan berbagai riset yang menjelaskan mengapa buah ini bisa menjadi pilihan yang aman.
Kunci rahasia kurma terletak pada kombinasi unik antara gula alami dan serat yang melimpah. Meskipun kadar gulanya tinggi, kandungan serat yang signifikan di dalam kurma berfungsi sebagai peredam alami.
Serat ini memperlambat proses pencernaan dan penyerapan gula ke dalam aliran darah.
Alhasil, kurma memiliki Indeks Glikemik (IG) yang secara mengejutkan tergolong rendah hingga sedang, tergantung pada jenisnya. Nilai IG ini mengukur seberapa cepat makanan meningkatkan kadar glukosa dalam darah.
Banyak studi klinis yang tercatat di basis data NIH telah mengamati langsung efek kurma pada subjek sehat maupun penderita diabetes. Hasilnya konsisten menunjukkan bahwa konsumsi kurma, dalam porsi yang wajar, tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang drastis (spike) seperti yang ditimbulkan oleh makanan manis olahan lainnya.
Fakta ini menegaskan bahwa tidak semua makanan manis memiliki dampak yang sama pada metabolisme tubuh.
Mekanisme Kurma dalam Menjaga Stabilitas Gula Darah