POLA JABAR - Ikan gurame telah lama menjadi primadona di meja makan masyarakat Asia Tenggara. Namun, di balik kelezatan dagingnya dan harganya yang stabil di pasaran, terdapat proses budidaya yang penuh risiko. 

WorldFish, sebagai organisasi internasional yang berfokus pada keberlanjutan perikanan, seringkali menyoroti bahwa iklim tropis memberikan keuntungan sekaligus hambatan besar bagi spesies ini.

Salah satu hambatan utama yang sering dikeluhkan pembudidaya adalah laju pertumbuhan gurame yang relatif lebih lambat dibandingkan ikan air tawar lainnya seperti nila atau lele. Di iklim tropis, metabolisme ikan sangat dipengaruhi oleh suhu air. 

Meskipun suhu hangat mempercepat metabolisme, fluktuasi suhu yang tajam antara siang dan malam di daerah tropis justru dapat menyebabkan stres pada ikan. Kondisi stres ini mengakibatkan sistem imun ikan menurun, sehingga mereka menjadi sangat rentan terhadap serangan bakteri dan parasit.

Masalah kualitas air juga menjadi tantangan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada musim kemarau panjang, volume air di kolam cenderung menyusut sementara konsentrasi limbah organik dari sisa pakan tetap tinggi. 

Hal ini memicu penurunan kadar oksigen terlarut yang bisa berakibat fatal. Sebaliknya, saat musim penghujan tiba, perubahan derajat keasaman atau pH air yang mendadak seringkali memicu wabah penyakit kulit pada gurame, yang jika tidak ditangani dengan cepat, dapat menyebabkan kematian massal dalam waktu singkat.

WorldFish menekankan pentingnya adopsi teknologi dan manajemen pakan yang lebih presisi untuk mengatasi kendala ini. Penggunaan benih unggul yang memiliki ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan beradaptasi pada suhu ekstrem menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. 

Selain itu, pembudidaya dituntut untuk lebih memahami siklus alam dan tidak hanya mengandalkan metode konvensional. Pengaturan padat tebar yang ideal serta sistem sirkulasi air yang baik merupakan langkah preventif yang jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan saat ikan sudah terpapar penyakit.

Ke depan, tantangan perubahan iklim global akan membuat pola cuaca tropis semakin sulit diprediksi. Oleh karena itu, sinergi antara riset ilmiah dan praktik di lapangan menjadi mutlak diperlukan.