POLAJABAR - Bagi seorang raja yang berkuasa di masa lalu, memiliki keturunan seorang anak laki-laki merupakan hal yang sangat penting.

Hal tersebut biasanya, dipersiapkan untuk kelangsungan hidup sebuah dinasti dan stabilitas negara, agar tetap berjalan.

Dalam konteks sejarah kerajaan-kerajaan kuno, anak laki-laki adalah "jangkar" yang menjaga agar kerajaan tidak runtuh ke dalam kekacauan.

Pun yang diharapkan oleh Raja Henry VIII dari permaisurinya, yakni Anne Boleyn. Ia berharap bisa memberikan keturunan seorang anak laki-laki.

Dikutif dari berbagai sumber, menurut catatan yang ada Anne Boleyn awalnya merupakan seorang dayang permaisuri Catherine dari Aragon. 

Pesona yang dimilikinya mampu membuat Raja Henry VIII jatuh cinta, bahkan hingga sang Raja memutuskan untuk menceraikan permaisuri Catherine. 

Namun hal tersebut mendapat penolakan dari Paus di Roma, dan kabarnya pernikahan Raja Henry VIII dan Anne Boleyn dibatalkan.

Mendapatkan kenyataan tersebut, kabarnya Raja Henry VIII sampai memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma dan mendirikan Gereja Inggris demi bisa menikahi Anne.

Usai resmi menjadi Ratu pada tahun 1533, Anne Boleyn mendapatkan tekanan dari Raja Henry VIII, agar bisa memberikan keturunan anak laki-laki.