POLA JABAR – Industri susu global tengah menghadapi titik balik yang signifikan. Jika satu dekade lalu susu sapi merupakan standar emas nutrisi di hampir setiap meja makan, data terbaru dari Statista menunjukkan adanya pergeseran paradigma yang cukup drastis dalam cara masyarakat dunia mengonsumsi produk susu.

Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan hasil dari akumulasi kesadaran kesehatan, isu lingkungan, dan inovasi pangan yang semakin masif.

Berdasarkan analisis pasar terbaru, volume konsumsi susu sapi cair di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat dan sebagian Eropa, menunjukkan tren penurunan yang stabil. Konsumen kini cenderung lebih selektif. Faktor intoleransi laktosa yang semakin banyak terdiagnosis menjadi salah satu pemicu utama mengapa masyarakat mulai menjaga jarak dengan susu sapi segar.

Namun, menariknya, penurunan pada susu cair tidak berarti industri susu secara keseluruhan runtuh. Statista mencatat adanya peningkatan permintaan pada produk turunan seperti keju dan mentega. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak berhenti mengkonsumsi produk susu, melainkan mengubah "cara" mereka menikmatinya.

Sektor yang paling mencuri perhatian dalam beberapa tahun terakhir adalah pertumbuhan pesat alternatif susu berbasis tanaman (plant-based milk). Susu almond, kedelai, oat, hingga susu dari kacang-kacangan lainnya kini bukan lagi produk niche untuk komunitas tertentu, melainkan sudah menjadi gaya hidup arus utama.

Data menunjukkan bahwa segmen ini didorong oleh generasi muda, khususnya Milenial dan Gen Z, yang memiliki kepedulian tinggi terhadap jejak karbon. Produksi susu nabati dinilai jauh lebih ramah lingkungan karena membutuhkan lebih sedikit air dan lahan dibandingkan peternakan sapi perah konvensional.

Selain alasan etika lingkungan, perubahan pola konsumsi ini juga didorong oleh tren "clean label". Konsumen saat ini lebih rajin membaca label nutrisi. Mereka mencari produk dengan kandungan gula rendah, tanpa bahan pengawet, dan diperkaya dengan vitamin spesifik.

Susu rendah lemak atau susu bebas laktosa kini mengalami pertumbuhan pangsa pasar yang lebih cepat dibandingkan susu full cream tradisional. Hal ini memaksa para produsen besar untuk melakukan reformulasi produk agar tetap relevan dengan keinginan pasar yang semakin terfragmentasi.

Perubahan pola konsumsi yang tercatat oleh Statista ini menjadi sinyal penting bagi para peternak dan produsen susu lokal. Adaptasi adalah kunci. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan teknologi pengolahan yang lebih sehat atau mulai melirik lini produk nabati diprediksi akan bertahan dalam persaingan global yang ketat.