POLA JABAR - Dalam beberapa tahun terakhir, tren merendam tubuh dalam air dingin atau mandi es telah bergeser dari sekadar ritual atlet profesional menjadi gaya hidup masyarakat urban. Fenomena ini bukan tanpa alasan. 

Banyak tokoh kesehatan dan kebugaran mengklaim bahwa paparan suhu rendah secara sengaja dapat meningkatkan segalanya, mulai dari suasana hati hingga fungsi kekebalan tubuh. Namun, bagaimana kacamata medis modern melihat tradisi yang kini kembali populer ini? mari kita bahas menurut informasi dari Harvard Health.com.

Praktik menggunakan suhu dingin untuk tujuan kesehatan atau yang secara teknis disebut sebagai hydrotherapy sebenarnya telah ada sejak ribuan tahun lalu. Dari pemandian kuno di Roma hingga tradisi masyarakat Nordik, air dingin dianggap sebagai sarana pemurnian dan penguatan fisik.

Dalam konteks modern, institusi kesehatan seperti Harvard Health mencatat bahwa paparan air dingin memicu respon fisiologis yang dikenal dengan istilah "fight or flight". Saat kulit menyentuh air dingin, tubuh melepaskan gelombang hormon seperti adrenalin dan norepinefrin. Respon inilah yang sering kali memberikan efek "segar" dan peningkatan fokus seketika bagi mereka yang melakukannya.

Salah satu alasan utama atlet menggunakan rendaman air dingin adalah untuk mengatasi peradangan. Secara biologis, suhu dingin menyebabkan pembuluh darah menyempit (vasokonstriksi). Proses ini membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri pada otot setelah aktivitas fisik yang intens. Ketika tubuh keluar dari air dingin dan kembali menghangat, pembuluh darah akan melebar kembali (vasodilatasi), yang secara teori membantu membuang limbah metabolik dari jaringan otot.

Selain aspek fisik, kesehatan mental juga menjadi sorotan utama. Paparan air dingin secara rutin diyakini dapat meningkatkan ketahanan mental. Dengan memaksa diri tetap tenang dalam kondisi yang tidak nyaman (dingin ekstrem), seseorang melatih sistem saraf otonomnya untuk lebih adaptif terhadap stres di kehidupan sehari-hari.

Meskipun manfaatnya menggiurkan, sains medis memberikan catatan penting mengenai keamanan. Bagi individu dengan riwayat penyakit jantung, paparan suhu dingin yang mendadak bisa menjadi bumerang. Kejutan suhu dingin dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung secara drastis dalam waktu singkat, yang berpotensi memicu beban berlebih pada sistem kardiovaskular.

Para ahli menyarankan agar transisi dilakukan secara bertahap. Alih-alih langsung melompat ke dalam kolam es, memulai dengan bilasan air dingin selama 30 detik di akhir mandi air hangat adalah langkah yang lebih bijak dan aman bagi pemula.

Integrasi tradisi air dingin ke dalam gaya hidup modern menunjukkan bahwa metode kuno seringkali memiliki dasar ilmiah yang kuat, meskipun memerlukan pendekatan yang hati-hati. Selama dilakukan dengan kesadaran akan batasan tubuh sendiri, terapi ini dapat menjadi alat tambahan yang efektif untuk menjaga kebugaran fisik dan kejernihan mental di tengah hiruk-pikuk dunia modern.***