POLA JABAR - Belakangan ini, pemandangan remaja dengan perangkat rokok elektrik atau vape di tangan menjadi hal yang lumrah di ruang publik. Seringkali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional, kenyataan di lapangan justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. 

Sebuah laporan terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Tobacco Control dan disorot oleh The Guardian mengungkap fakta pahit: vape bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan ancaman kesehatan yang berlapis bagi generasi muda.

Salah satu temuan paling mencolok dalam riset tersebut adalah peningkatan risiko transisi penggunaan produk tembakau. Data menunjukkan bahwa remaja yang memulai kebiasaan dengan vape memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar untuk beralih atau mulai mencoba rokok konvensional.

Fenomena ini mematahkan klaim bahwa vape berfungsi sebagai alat bantu berhenti merokok bagi anak muda. Sebaliknya, nikotin yang terkandung dalam cairan vape justru menciptakan ketergantungan awal yang membuat sistem saraf remaja lebih "haus" akan asupan nikotin yang lebih kuat, yang seringkali ditemukan pada rokok bakar.

Bukan hanya soal ketergantungan, dampak fisik yang paling nyata terlihat pada kesehatan paru-paru. Studi tersebut mengaitkan penggunaan vape secara signifikan dengan peningkatan risiko asma. Partikel ultra-halus dan zat kimia aromatik dalam cairan vape dapat menyebabkan peradangan kronis pada saluran udara.

Bagi remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, paparan zat iritan ini sangat berbahaya. Gejala seperti sesak napas, batuk kronis, dan penurunan fungsi paru kini mulai banyak ditemukan pada pengguna vape usia sekolah, bahkan pada mereka yang sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan pernapasan.

Hal yang sering luput dari perhatian adalah dampak vape terhadap stabilitas psikologis. Laporan yang sama menekankan adanya korelasi kuat antara penggunaan rokok elektrik dengan gangguan kesehatan mental, termasuk kecemasan berlebih (anxiety) dan depresi.

Para ahli berpendapat bahwa ketergantungan nikotin pada usia dini dapat mengganggu perkembangan otak yang mengatur emosi dan kontrol diri. Alih-alih meredakan stres alasan yang sering digunakan remaja untuk mulai nge-vape fluktuasi kadar nikotin dalam darah justru seringkali memicu siklus kecemasan yang memperburuk kondisi mental mereka.

Melihat data yang dipaparkan oleh Tobacco Control, tantangan terbesar saat ini adalah persepsi publik yang masih menganggap vape "tidak berbahaya". Pemasaran yang masif dengan berbagai varian rasa buah dan kemasan yang trendi secara tidak langsung menyasar pasar anak muda.