POLA JABAR - Selama satu dekade terakhir, rokok elektrik atau vape sering kali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih sehat" dibandingkan rokok konvensional. Namun, seiring meningkatnya angka pengguna, penelitian medis justru menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan. 

Berdasarkan data yang dihimpun dari Verywell Health, uap yang dihasilkan oleh perangkat ini mengandung zat kimia yang secara langsung dapat merusak jaringan paru-paru dan memicu penyakit kronis seperti asma serta bronkitis.

Berbeda dengan asap rokok yang dihasilkan dari pembakaran tembakau, vape bekerja dengan memanaskan cairan (e-liquid) menjadi aerosol. Masalah utamanya terletak pada kandungan aerosol tersebut. Meskipun terlihat seperti uap air biasa, aerosol vape mengandung partikel halus, logam berat, dan senyawa organik yang mudah menguap.

Ketika partikel ini dihirup, mereka masuk jauh ke dalam kantong udara di paru-paru (alveoli) dan memicu reaksi peradangan. Bagi individu yang sehat, paparan terus-menerus dapat menyebabkan iritasi kronis. Namun, bagi mereka yang memiliki riwayat sensitivitas pernapasan, paparan ini bertindak sebagai pemantik utama serangan asma.

Asma adalah kondisi di mana saluran udara membengkak dan menyempit, sehingga memicu sesak napas. Cairan vape sering kali mengandung propilen glikol dan gliserin nabati yang, jika dipanaskan, dapat berubah menjadi formaldehida zat iritan yang sangat kuat.

Penelitian menunjukkan bahwa pengguna vape memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami eksaserbasi asma (serangan asma mendadak). Zat kimia dalam vape mengganggu fungsi silia, yaitu rambut-rambut halus di saluran pernapasan yang bertugas menyaring debu dan lendir. Ketika silia tidak bekerja, pemicu asma menetap lebih lama di paru-paru, menyebabkan penyempitan saluran napas yang lebih parah.

Selain asma, bronkitis kronis menjadi ancaman nyata bagi pengguna vape jangka panjang. Bronkitis terjadi ketika saluran bronkial (jalur udara menuju paru-paru) mengalami peradangan dan memproduksi lendir berlebih, yang menyebabkan batuk berkepanjangan.

Salah satu zat kimia yang paling disorot adalah diasetil. Zat ini sering digunakan sebagai penambah rasa pada cairan vape (seperti rasa mentega atau buah). Paparan diasetil telah dikaitkan dengan kondisi langka namun serius yang disebut bronchiolitis obliterans, atau lebih populer dikenal sebagai "Popcorn Lung". Kondisi ini menyebabkan jaringan parut pada saluran udara terkecil di paru-paru, yang mengakibatkan batuk kering dan sesak napas yang mirip dengan gejala bronkitis akut.

Dampak negatif ini terasa jauh lebih signifikan pada kelompok usia remaja. Karena paru-paru mereka masih dalam tahap perkembangan hingga awal usia 20-an, paparan zat beracun dari vape dapat menghambat pertumbuhan paru-paru secara maksimal.