POLA JABAR - Selama satu dekade terakhir, industri tembakau mengalami pergeseran paradigma dengan munculnya rokok elektrik atau vape. Banyak pengguna beralih ke perangkat ini dengan asumsi bahwa menghirup uap jauh lebih bersih dibandingkan membakar tembakau. Namun, American Heart Association (AHA) memberikan pandangan yang lebih kritis dan berbasis data mengenai perdebatan ini.

Secara mekanis, rokok konvensional bekerja dengan membakar daun tembakau yang menghasilkan asap berisi ribuan bahan kimia, di mana ratusan di antaranya beracun dan puluhan lainnya bersifat karsinogenik. Di sisi lain, vaping bekerja dengan memanaskan cairan (e-liquid) hingga menjadi aerosol.

Meskipun benar bahwa aerosol vape umumnya mengandung zat beracun yang lebih sedikit dibandingkan asap rokok yang dibakar, para ahli dari AHA menekankan bahwa "lebih sedikit" bukan berarti "aman".

Salah satu kekhawatiran terbesar yang disoroti oleh American Heart Association adalah konsentrasi nikotin. Banyak produk vape modern menggunakan garam nikotin (nicotine salts) yang memungkinkan pengguna menghirup kadar nikotin lebih tinggi dengan iritasi tenggorokan yang lebih rendah.

Nikotin, baik berasal dari rokok maupun vape, adalah zat adiktif yang secara langsung mempengaruhi sistem kardiovaskular. Zat ini meningkatkan denyut jantung, mempersempit pembuluh darah, dan memicu lonjakan adrenalin. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Selain nikotin, cairan vape mengandung bahan tambahan seperti propilen glikol, gliserin nabati, dan berbagai perasa kimia. American Heart Association mencatat bahwa meskipun bahan-bahan ini mungkin aman untuk dimakan, dampaknya saat dipanaskan dan dihirup ke dalam paru-paru adalah cerita yang berbeda.

Zat perasa tertentu telah dikaitkan dengan peradangan paru-paru dan kerusakan pembuluh darah (disfungsi endotel). Kerusakan pada lapisan pembuluh darah ini merupakan langkah awal menuju penyakit jantung kronis. Selain itu, pemanasan koil logam dalam perangkat vape dapat melepaskan partikel logam berat seperti nikel, timbal, dan kromium ke dalam uap yang dihirup.

Apakah Vaping Efektif untuk Berhenti Merokok?

Banyak orang menggunakan vape sebagai "jembatan" untuk berhenti merokok. Namun, posisi AHA cukup tegas: vape tidak direkomendasikan sebagai metode utama berhenti merokok yang disetujui secara medis.