POLA JABAR - Selama bertahun-tahun, perdebatan mengenai rokok elektrik atau vaping lebih banyak berpusat pada kesehatan paru-paru dan jantung. Namun, bukti-bukti ilmiah terbaru mulai mengarahkan pandangan ke organ vital lain yang jarang dibahas dalam konteks ini: hati (liver). Melalui berbagai studi yang dipublikasikan dalam jurnal Hepatology Research, para ilmuwan mulai menemukan korelasi yang mengkhawatirkan antara paparan uap rokok elektrik dengan gangguan fungsi hati.
Hati berfungsi sebagai pusat detoksifikasi utama tubuh. Ketika zat asing masuk melalui sistem pernapasan, hati bekerja keras untuk menyaring racun tersebut. Sayangnya, komponen kimia dalam cairan vape tampaknya memberikan beban kerja yang berlebihan dan merusak sel-sel hati secara permanen.
Mekanisme Stres Oksidatif pada Jaringan Hati
Salah satu temuan utama dalam Hepatology Research adalah adanya peningkatan stres oksidatif pada hati akibat paparan aerosol dari vaping. Meskipun tidak melalui proses pembakaran, pemanasan cairan vape menghasilkan senyawa kimia seperti akrolein, formaldehida, dan berbagai logam berat.
Zat-zat ini, ketika terserap ke dalam aliran darah, akan memicu pembentukan radikal bebas di dalam sel-sel hati (hepatosit). Jika tubuh tidak mampu mengimbangi jumlah radikal bebas ini dengan antioksidan, maka akan terjadi kerusakan seluler yang memicu peradangan kronis. Dalam jangka panjang, peradangan ini dapat menyebabkan kematian sel hati yang digantikan oleh jaringan parut atau fibrosis.
Risiko Penyakit Hati Berlemak Non-Alkohol (NAFLD)
Riset menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik secara rutin dapat memperburuk kondisi akumulasi lemak di hati. Hal ini berkaitan erat dengan gangguan metabolisme lipid. Vaping ditemukan dapat memicu perubahan pada jalur sinyal insulin dan metabolisme asam lemak di dalam hati.
Kondisi ini serupa dengan Penyakit Hati Berlemak Non-Alkohol (NAFLD), di mana lemak menumpuk secara berlebihan di sel hati meski penderitanya bukan peminum alkohol aktif. Tanpa penanganan yang tepat, NAFLD dapat berkembang menjadi steatohepatitis non-alkohol (NASH), yang merupakan kondisi lebih serius dan berisiko tinggi menuju sirosis atau bahkan kanker hati.