POLA JABAR - Beberapa tahun terakhir, penggunaan rokok elektrik atau vaping telah bergeser dari sekadar tren menjadi fenomena kesehatan masyarakat yang serius, khususnya di kalangan remaja. Banyak pengguna muda menganggap vaping sebagai alternatif yang lebih aman daripada rokok konvensional, bahkan sering kali digunakan sebagai pelarian untuk mengatasi stres.
Namun, temuan terbaru yang dipublikasikan oleh Journal of Adolescent Health justru menunjukkan realitas yang mengkhawatirkan: ada kaitan erat antara penggunaan vaping dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan pada remaja.
Data menunjukkan bahwa alih-alih meredakan tekanan mental, kandungan dalam vaping justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis pengguna di usia pertumbuhan.
Satu poin krusial yang diungkap dalam studi tersebut adalah peran nikotin sebagai zat adiktif utama. Banyak remaja terjebak dalam persepsi bahwa menghirup uap memberikan efek menenangkan secara instan. Secara fisiologis, nikotin memang memicu pelepasan dopamin yang memberikan rasa nyaman sementara. Namun, efek ini sangat singkat.
Ketika kadar nikotin dalam darah menurun, tubuh akan mengalami gejala putus zat (withdrawal). Gejala ini meliputi iritabilitas, kesulitan berkonsentrasi, dan kegelisahan yang mendalam. Bagi remaja, siklus naik-turunnya kadar nikotin ini justru menciptakan pola kecemasan yang konstan. Dengan kata lain, apa yang dianggap sebagai "obat stres" sebenarnya adalah pemicu kecemasan baru yang lebih kompleks.
Studi dalam Journal of Adolescent Health menekankan bahwa otak remaja masih berada dalam tahap perkembangan hingga awal usia 25 tahun. Bagian otak yang mengatur fungsi kognitif, pengambilan keputusan, dan kontrol emosi sangat sensitif terhadap paparan zat kimia.
Masuknya nikotin dan bahan tambahan lainnya dalam cairan vaping dapat mengganggu sirkuit saraf yang bertanggung jawab atas regulasi suasana hati. Ketidakseimbangan neurotransmiter akibat paparan rutin ini berkontribusi langsung pada munculnya gejala depresi. Remaja yang menjadi pengguna aktif dilaporkan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk merasakan perasaan sedih yang persisten, kehilangan minat pada aktivitas harian, hingga keputusasaan dibandingkan mereka yang tidak pernah menyentuh rokok elektrik.
Analisis mendalam terhadap data kesehatan remaja mengungkapkan adanya pola "lingkaran setan". Remaja yang sudah memiliki kecenderungan gejala depresi atau kecemasan awal lebih mungkin untuk mencoba vaping sebagai bentuk pengobatan mandiri (self-medication). Namun, sifat adiktif dari perangkat ini justru memperparah kondisi mental awal mereka.
Interaksi sosial di lingkungan pengguna vaping juga turut berperan. Tekanan teman sebaya dan ketergantungan pada perangkat ini dapat mengisolasi remaja secara emosional jika mereka tidak mampu mengaksesnya, yang pada akhirnya memperkuat perasaan cemas dalam lingkungan sosial.