POLA JABAR - Dalam beberapa tahun terakhir, rokok elektrik atau vaping telah bertransformasi dari sekadar alternatif berhenti merokok menjadi gaya hidup yang mendunia. Namun, di balik awan uap yang terlihat lebih "bersih" daripada asap tembakau, tersimpan mekanisme biologis yang mengkhawatirkan. Salah satu temuan paling signifikan dalam literatur medis modern adalah hubungan antara penggunaan vape dengan peningkatan stres oksidatif di dalam tubuh manusia.

Merujuk pada penelitian intensif yang dipublikasikan dalam jurnal Free Radical Biology & Medicine, vaping bukan sekadar menghirup uap air beraroma. Aktivitas ini memicu serangkaian reaksi kimia yang dapat mengganggu keseimbangan alami sel dan memicu kerusakan jangka panjang.

Apa Itu Stres Oksidatif?

Secara sederhana, stres oksidatif adalah kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara radikal bebas (oksidan) dan antioksidan di dalam tubuh. Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat merusak protein, lemak, dan bahkan DNA sel. Dalam kondisi normal, tubuh memiliki sistem pertahanan antioksidan untuk menetralkan molekul ini. Namun, paparan zat eksternal yang masif—seperti uap dari rokok elektrik—dapat membuat produksi radikal bebas melonjak drastis hingga melampaui kemampuan proteksi tubuh.

Aerosol Vape sebagai Sumber Radikal Bebas

Penelitian dalam Free Radical Biology & Medicine menyoroti bahwa proses pemanasan cairan vape (e-liquid) oleh kumparan logam (coil) menghasilkan aerosol yang mengandung senyawa karbonil reaktif dan logam berat. Meskipun tidak ada proses pembakaran seperti pada rokok konvensional, suhu tinggi yang dihasilkan cukup untuk memecah bahan kimia cair menjadi zat-zat yang bersifat pro-oksidan.

Saat aerosol ini terhirup, partikel ultra-halusnya masuk jauh ke dalam alveoli paru dan menembus aliran darah. Di sanalah mereka memicu pelepasan spesies oksigen reaktif (ROS). Peningkatan ROS yang tidak terkendali inilah yang menjadi awal mula terjadinya stres oksidatif pada tingkat sistemik, bukan hanya terbatas pada organ paru-paru.

Dampak pada Jantung dan Pembuluh Darah

Salah satu organ yang paling rentan terhadap stres oksidatif akibat vaping adalah sistem kardiovaskular. Peningkatan radikal bebas menyebabkan peradangan pada lapisan bagian dalam pembuluh darah yang disebut endotel. Ketika fungsi endotel terganggu, pembuluh darah menjadi kaku dan mengalami penyempitan.