POLA JABAR - Selama satu dekade terakhir, rokok elektrik atau vape sering kali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional. Namun, seiring berkembangnya penelitian medis, tabir keselamatan tersebut mulai tersingkap. Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan adalah kaitan erat antara penggunaan vape dengan munculnya peradangan sistemik di dalam tubuh manusia.

Berdasarkan laporan ilmiah yang dirilis dalam Journal of Inflammation, dampak vaping ternyata tidak hanya berhenti di saluran pernapasan, tetapi menjalar hingga ke tingkat seluler di seluruh sistem tubuh.

Peradangan sistemik adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh berada dalam keadaan siaga tinggi yang konstan dan tidak terkendali. Saat seseorang menghirup uap dari perangkat vape, mereka tidak hanya memasukkan nikotin, tetapi juga campuran kompleks dari propilen glikol, gliserin nabati, dan berbagai bahan kimia perasa.

Ketika zat-zat ini dipanaskan, mereka dapat mengalami dekomposisi termal menjadi senyawa sitotoksik. Senyawa ini memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi protein yang bertindak sebagai sinyal bagi sistem imun. 

Dalam jangka pendek, ini mungkin terasa seperti iritasi tenggorokan biasa, namun secara sistemik, tubuh mulai merespons uap tersebut sebagai ancaman asing yang harus diperangi terus-menerus.

Salah satu fokus utama dalam Journal of Inflammation adalah peningkatan stres oksidatif akibat vaping. Paparan uap aerosol memicu produksi radikal bebas yang berlebihan dalam sel. Ketika jumlah radikal bebas melampaui kemampuan antioksidan tubuh untuk menetralkannya, kerusakan seluler pun terjadi.

Stres oksidatif ini memicu peradangan pada lapisan endotel, yaitu lapisan tipis yang melapisi pembuluh darah. Jika endotel mengalami peradangan kronis, risiko penyakit kardiovaskular, seperti pengerasan arteri (aterosklerosis) dan tekanan darah tinggi, akan meningkat secara signifikan. 

Hal ini membuktikan bahwa meskipun seseorang tidak menghirup "asap" hasil pembakaran, uap kimia tetap mampu merusak sistem peredaran darah.

Paru-paru adalah pintu masuk utama, dan sel makrofag di sana adalah garis pertahanan pertama. Penelitian menunjukkan bahwa vaping dapat melumpuhkan fungsi makrofag alveolar, sehingga paru-paru menjadi lebih rentan terhadap infeksi.