POLA JABAR - Dunia kesehatan publik saat ini tengah dihadapkan pada perdebatan sengit mengenai efikasi rokok elektrik atau vape. Di satu sisi, ia dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman", namun di sisi lain, bukti ilmiah mulai menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Berdasarkan berbagai studi yang dirilis oleh Tobacco Control, terdapat indikasi kuat bahwa vape bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan pintu masuk atau gateway menuju kebiasaan merokok konvensional.
Fenomena ini menjadi perhatian serius karena sasarannya yang didominasi oleh kelompok usia muda yang sebelumnya bukan merupakan perokok.
Inti dari permasalahan ini terletak pada zat adiktif utama yang dikandungnya: nikotin. Meskipun vape menggunakan mekanisme pemanasan cairan, nikotin yang masuk ke dalam tubuh tetap memicu pelepasan dopamin di otak, menciptakan jalur ketergantungan yang sama dengan rokok bakar.
Studi dalam jurnal Tobacco Control menyoroti bahwa remaja yang memulai dengan vape memiliki kemungkinan berkali-kali lipat lebih besar untuk mencoba rokok tembakau dalam satu hingga dua tahun ke depan. Paparan nikotin sejak dini melalui uap beraroma buah atau permen secara perlahan membangun toleransi tubuh, yang pada akhirnya mendorong pengguna mencari sensasi "tarikan" yang lebih kuat dari rokok konvensional.
Salah satu dampak paling berbahaya dari populernya vape adalah kembali normalnya perilaku merokok di ruang publik. Setelah bertahun-tahun kampanye anti-rokok berhasil menurunkan prevalensi merokok, kehadiran vape seolah meruntuhkan dinding pembatas tersebut.
Vape seringkali dianggap tidak berbahaya karena tidak menghasilkan asap yang berbau menyengat. Hal ini menciptakan rasa aman palsu di kalangan pengguna. Ketika seseorang sudah terbiasa dengan gestur tangan-ke-mulut (hand-to-mouth) dan terikat secara psikologis pada aktivitas menghirup zat adiktif, transisi menuju rokok konvensional menjadi jauh lebih mudah dan tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu.
Tidak bisa dipungkiri bahwa desain perangkat yang futuristik dan varian rasa yang beragam menjadi daya tarik utama. Namun, data menunjukkan bahwa setelah rasa ingin tahu terhadap rasa tersebut terpuaskan, kecanduan biologis terhadap nikotin tetap tertinggal.
Laporan dari Tobacco Control menekankan bahwa pengguna vape pemula seringkali tidak menyadari kadar nikotin yang mereka konsumsi. Dalam banyak kasus, konsentrasi nikotin dalam liquid vape tertentu justru jauh lebih tinggi dibandingkan satu batang rokok, yang mempercepat proses desensitisasi reseptor otak.
Meskipun industri sering berargumen bahwa vape membantu perokok dewasa untuk berhenti, realitas di lapangan menunjukkan pola "penggunaan ganda" (dual use). Alih-alih berhenti, banyak pengguna justru mengonsumsi keduanya. Yang lebih mengkhawatirkan, bagi mereka yang belum pernah merokok, vape justru menjadi titik awal yang membuka jalan menuju ketergantungan tembakau jangka panjang.