POLA JABAR - Dalam satu dekade terakhir, popularitas rokok elektrik atau vaping telah melonjak secara global, sering kali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional. Namun, seiring bertambahnya volume penelitian yang dipublikasikan dalam pangkalan data ilmiah seperti ScienceDirect, konsensus medis mulai memberikan gambaran yang lebih kompleks dan hati-hati mengenai dampak kesehatan yang ditimbulkannya.

Para peneliti dan ahli kesehatan masyarakat kini menekankan bahwa meskipun vaping mungkin memiliki tingkat toksisitas yang lebih rendah dalam parameter tertentu dibandingkan pembakaran tembakau, perangkat ini bukanlah tanpa risiko. 

Berikut adalah poin-poin krusial yang menjadi sorotan dalam berbagai studi literatur mengenai dampak kesehatan dari penggunaan rokok elektrik.

1. Gangguan Sistem Pernapasan dan Inflamasi Paru

Salah satu temuan yang paling konsisten dalam berbagai studi di ScienceDirect adalah dampak aerosol vape terhadap jaringan paru-paru. Cairan vape (e-liquid) yang dipanaskan menghasilkan partikel halus yang mampu menembus jauh ke dalam alveoli. Konsensus medis menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap bahan kimia seperti propilen glikol dan gliserin nabati dapat memicu inflamasi kronis.

Selain itu, perasa (flavoring) yang digunakan dalam cairan vape, meskipun aman untuk dikonsumsi secara oral, seringkali bersifat sitotoksik ketika dihirup dalam bentuk uap. Hal ini berkaitan dengan peningkatan risiko kondisi seperti bronkiolitis obliterans dan penurunan fungsi pertahanan mukosa paru terhadap infeksi bakteri maupun virus.

2. Risiko Kardiovaskular yang Tersembunyi

Meskipun tidak menghasilkan tar seperti rokok bakar, vaping tetap memberikan beban yang signifikan pada sistem kardiovaskular. Kandungan nikotin dalam sebagian besar produk vape menyebabkan lonjakan adrenalin, yang pada gilirannya meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.

Data ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan vape secara rutin dapat memicu kekakuan arteri (arterial stiffness) dan disfungsi endotel. Kondisi ini merupakan prediktor awal bagi penyakit jantung koroner dan stroke. Konsensus menekankan bahwa bagi individu dengan riwayat penyakit jantung, penggunaan vape bisa menjadi pemicu komplikasi yang serius.