POLA JABAR - Siapa yang tidak suka aroma wangi yang menempel di baju sepanjang hari? Parfum telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas diri. Namun, pernahkah Anda memperhatikan label kemasan parfum dan hanya menemukan satu kata misterius: "Fragrance" atau "Parfum"?

Di balik kata tunggal tersebut, ternyata tersimpan rahasia yang cukup kompleks. Lembaga nirlaba Environmental Working Group (EWG) secara konsisten menyoroti bagaimana industri wewangian sering kali menggunakan celah hukum untuk menyembunyikan ratusan bahan kimia tanpa harus mencantumkannya secara detail di label kemasan.

Celah "Secret Recipe" dalam Industri Wewangian

Secara hukum di banyak negara, produsen diperbolehkan mencantumkan kata "Fragrance" untuk melindungi rahasia dagang mereka. Masalahnya, menurut riset EWG, satu kata tersebut bisa mewakili campuran dari puluhan hingga ratusan bahan kimia sintetis. Banyak di antaranya belum diuji secara memadai untuk keamanan jangka panjang terhadap kesehatan manusia.

Fakta ini sering kali luput dari perhatian konsumen. Kita membeli aroma, namun tanpa sadar kita juga menyemprotkan zat-zat kimia yang bersifat persisten ke kulit kita.

Zat Kimia yang Sering Menjadi Sorotan

Berdasarkan database Skin Deep milik EWG, ada beberapa kelompok bahan kimia utama yang sering ditemukan dalam parfum konvensional dan berpotensi memberikan dampak negatif:

1. Phthalates (Ftalat) 

Zat ini sering digunakan sebagai pengikat agar aroma parfum bertahan lebih lama di kulit. Salah satu yang paling sering disorot adalah Diethyl Phthalate (DEP). Masalahnya, ftalat dikenal sebagai pengganggu hormon (endocrine disruptors) yang dapat memengaruhi sistem reproduksi dan perkembangan.