POLAJABAR.COM - Fenomena iklim global El Nino diprediksi akan membawa dampak signifikan berupa musim kemarau panjang yang ekstrem pada tahun 2026 mendatang. Dampak ini dikhawatirkan akan memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Pemerintah Kabupaten Bandung telah bergerak cepat dalam melakukan berbagai upaya mitigasi dan persiapan guna menghadapi potensi kekeringan yang diprediksi akan melanda wilayah tersebut. Langkah antisipatif ini dilakukan untuk meminimalisir kerugian yang mungkin timbul.

Berdasarkan pemetaan risiko yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, situasi kekeringan menjadi perhatian serius. Data menunjukkan bahwa mayoritas wilayah di kabupaten tersebut berada dalam zona merah kekeringan.

Secara spesifik, temuan BPBD Kabupaten Bandung mengidentifikasi bahwa sebanyak 19 dari total 31 kecamatan yang ada masuk dalam kategori wilayah rawan kekeringan. Angka ini mengindikasikan bahwa lebih dari separuh wilayah administrasi rentan mengalami kekurangan pasokan air.

Ancaman utama yang ditimbulkan dari potensi kekeringan ekstrem akibat El Nino ini tidak hanya terbatas pada krisis air bersih bagi masyarakat. Fenomena ini juga membawa risiko besar terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering menyertai musim kemarau panjang.

Selain itu, sektor pertanian dan ketahanan pangan juga diprediksi akan menerima pukulan keras akibat minimnya ketersediaan air untuk irigasi. Oleh karena itu, mitigasi komprehensif menjadi kunci utama penanganan krisis yang mungkin terjadi.

Pemerintah daerah kini tengah memfinalisasi langkah-langkah konkret untuk memastikan ketersediaan sumber daya air dapat terjaga sepanjang musim kemarau yang diperkirakan akan lebih parah dari biasanya. Fokus utama adalah distribusi air bersih dan pencegahan kebakaran.

"Sebanyak 19 dari 31 kecamatan masuk dalam kategori rawan kekeringan," demikian hasil identifikasi yang dikeluarkan oleh BPBD Kabupaten Bandung mengenai sebaran kerentanan wilayah.

Lebih lanjut, dampak yang mungkin terjadi dari kekeringan ini sangat luas, meliputi ancaman krisis air bersih, peningkatan risiko karhutla, serta potensi gangguan serius pada sektor produksi pangan, sebagaimana disampaikan oleh pihak terkait.