POLA JABAR - Selama satu dekade terakhir, rokok elektronik atau vape sering kali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional. Namun, seiring berkembangnya penelitian di bidang onkologi dan epidemiologi, klaim tersebut mulai menghadapi tantangan serius. Data terbaru yang dihimpun dari laporan Cancer Epidemiology menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektronik bukanlah tanpa risiko, terutama terkait paparan bahan kimia karsinogenik yang dapat memicu kerusakan seluler jangka panjang.
Meskipun tidak melalui proses pembakaran tembakau seperti rokok tradisional, proses pemanasan cairan (liquid) dalam perangkat elektronik ternyata menciptakan reaksi kimia kompleks yang menghasilkan senyawa berbahaya.
Salah satu temuan utama dalam studi epidemiologi kanker adalah munculnya senyawa karbonil seperti formaldehida, asetaldehida, dan akrolein saat cairan vape dipanaskan. Senyawa-senyawa ini terbentuk ketika pelarut utama dalam liquid, yaitu propilen glikol dan gliserin nabati, terpapar suhu tinggi dari koil pemanas.
Formaldehida, misalnya, telah diklasifikasikan sebagai karsinogen Grup 1 oleh International Agency for Research on Cancer (IARC). Paparan kronis terhadap zat ini melalui inhalasi dapat menyebabkan iritasi pernapasan berat hingga perubahan struktur DNA pada sel-sel di saluran udara.
Risiko karsinogenik dalam rokok elektronik tidak hanya berasal dari cairannya, tetapi juga dari perangkat kerasnya itu sendiri. Studi menunjukkan bahwa koil pemanas yang terbuat dari logam dapat melepaskan partikel mikroskopis saat dipanaskan secara berulang. Logam berat seperti nikel, kromium, dan kadmium sering kali ditemukan dalam uap yang dihasilkan.
Nikel dan kromium dikenal sebagai zat yang bersifat toksik dan karsinogenik jika masuk ke dalam sistem pernapasan dalam jangka waktu lama. Keberadaan logam-logam ini menunjukkan bahwa keamanan vape tidak hanya bergantung pada komposisi kimia liquid, tetapi juga pada integritas material perangkat yang digunakan.
Meskipun banyak produk vape mengklaim bebas tembakau, sebagian besar nikotin yang digunakan masih diekstraksi dari tanaman tembakau. Dalam proses ekstraksi ini, sering kali terdapat sisa-sisa senyawa yang dikenal sebagai Nitrosamin Spesifik Tembakau (TSNAs).
TSNAs adalah salah satu kelompok senyawa karsinogenik paling kuat yang ditemukan dalam produk tembakau. Walaupun kadarnya dalam rokok elektronik umumnya lebih rendah dibandingkan rokok konvensional, keberadaannya tetap menjadi perhatian besar bagi para peneliti kesehatan masyarakat karena tidak ada ambang batas aman untuk paparan zat karsinogenik.
Paparan terhadap campuran bahan kimia ini dapat memicu stres oksidatif dalam tubuh. Stres oksidatif terjadi ketika radikal bebas merusak komponen sel, termasuk protein dan lipid. Yang paling mengkhawatirkan adalah potensi kerusakan pada DNA (genotoksisitas). Ketika mekanisme perbaikan DNA dalam tubuh gagal mengatasi kerusakan akibat paparan kimia tersebut, peluang terjadinya mutasi sel yang mengarah pada pembentukan kanker menjadi meningkat.